Friday, March 18, 2016

Mengembalikan aura Taman Ismail Marzuki

Nongkrong di TIM tidak lagi sekeren dulu lagi. Taman Ismail Marzuki sudah kehilangan auranya dalam pemerintahan daerah DKI Jakarta sekarang ini. Pemda DKI memperketat aturan di dalam TIM. Tujuannya benar agar TIM menjadi teratur. Sejumlah bangunan memang menjadi lebih apik dan modern. Tetapi, sejumlah bangunan tempat seniman berkumpul, berdiskusi juga dirobohkan dan belum dibangun. Sehingga seniman kurang memiliki tempat untuk berekspresi.

Sebagai orang yang sering berkegiatan di TIM, bakal calon gubernur DKI Jakarta 2017  Effendi Saman mengamati hal ini. TIM kini berubah fungsi, kegiatan berkesenian mulai dibatasi dan ditertibkan. Tidak lama lagi, warung-warung yang selama ini dijadikan tempat nongkrong dan makan para aktivis dan seniman akan digusur. Besok-besok sudah tidak bisa lagi bersilaturahmi duduk di pelataran seperti sekarang ini. Pemda DKI saat ini menggusur atas nama hukum dan ruangan hijau.

Aktivis TIM nongkrong di tahun 80-an

Mas Hendrajit, pengamat politik, juga berpendapat sama dan menuliskannya baru-baru ini bahwa sekitaran 1980-an ketika beliau masih sering main di TIM, lumrah kalau banyak seniman dan pegiat budaya pada aneh-aneh kelakuan dan tindak tanduknya. Namun keanehan yang saya rasakan akhir-akhir inidi TIM, beda dengan keanehan-keanehan yang diekspresikan para seniman TIM dekade 80-an. Kalau dulu, omongan-omongannya bernas, cerdas dan inspiratif. Humor-humornya juga cerdas dan bikin orang berpikir. Meskipun kadang disampaikan dengan sinis atau ironi. Sekarang, humor-humornya atau obrolannya dangkal, humornya juga garing. Agaknya ini gambaran dan cerminan kebudayaan dan seni Indonesia khususnya DKI Jakarta yang lagi mandeg dan stagnan.

Karena itu Effendi Saman bermaksud mengembalikan TIM kepada fitrahnya semula yaitu tempat seniman berkegiatan, berdiskusi dan tukar pendapat mengenai kesenian. Karena tanpa seni, hidup akan kering. Membangun tanpa menggusur, itu mottonya.